Artikel

APOTEKER. Siapa sih dia?banyak kalangan umum,bahkan ada juga beberapa tenaga kesehatan yang masih belum ‘ngeh’ juga apa dan siapa Apoteker itu.

Ironis sekali hal ini bisa terjadi dan mungkin akan mendarah daging ke anak cucu kelak.

Menurut definisinya, Apoteker adalah sebuah profesi kesehatan yang diakui keberadaannya oleh UU tenaga kesehatan seperti dokter, dokter gigi, perawat, dan bidan.Para tenaga kesehatan itu masing-masing juga  berkumpul dalam sebuah organisasi profesi yang diakui keberadaannya oleh pemerintah. IDI untuk profesi dokter, IBI untuk profesi bidan, IDGI untuk profesi dokter gigi.Untuk apoteker tergabung dalam IAI atau Ikatan Apoteker Indonesia.Masing-masing organisasi profesi ini punya kewenangan mengatur rumah tangganya, dan bersifat independent. Mereka mempunyai kode etik dalam menjalankan profesinya.

Coba kita cermati definisi lain dari Apoteker, Apoteker adalah :

  • Adalah orang yang ahli dalam masalah obat anda
  • Memantau terapi pengobatan anda.
  • Mengecek resep anda untuk memastikan ketepatan obat, dosis dan instruksi/petunjuk yang terbaik bagi anda.
  • Memberikan saran terhadap cara menghilangkan keluhan-keluhan anda tanpa menggunakan obat
  • Membantu anda memilih obat-obat bebas atau produk kesehatan lainnya
  • Memberikan saran dan informasi tentang masalah-masalah kesehatan yang lebih luas
  • Menyimpan rekaman komputer dari obat-obat yang sedang anda gunakan

 

Bahkan bisa dikatakan, ada masalah tentang Obat?Apoteker Solusinya. Dari sekian banyak obat yang ada, Apoteker bisa memahami manfaat dan efek sampingnya, interaksi obat satu dengan lainnya, bisa merekomendasikan satu dari jutaan obat yang tepat berdasarkan keluhan dan permintaan pasien. Tapi kenapa koq masih banyak yang gak ‘ngeh’ dengan keberadaan Apoteker?

Mungkin permasalahan yang dihadapi sekarang adalah dari Apoteker sendiri, banyak sekali apoteker yang tidak memahami akan arti Apoteker yang sesungguhnya. Mereka bekerja secara pragmatis. Bekerja seenaknya, datang sebulan sekali, tanda tangan surat pesanan di rapel, tidak pernah melakukan komunikasi dengan pasien. Bagaimana masyarakat bisa mengenal Apoteker kalo kita membiarkan tradisi buruk seperti itu berlaku. Tak banyak yang peduli akan eksistensi Apoteker itu sendiri, sehingga membuat Apoteker serasa ‘diabaikan ‘ keberadaannya di masyarakat.

Sampai kapan kita terabaikan? Hanya kita yang bisa menjawabnya…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s